Keterampilan abad 21

Membangun Karakter melalui Keterampilan 4’C

 

Saat ini perkembangan teknologi sangatlah pesat. Aktivitas yang dilakukan  seseorang kadang tidak terlepas dari penggunaan ICT (Information and Communication Tecnology). Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita lihat bahwa hal-hal yang ringanpun terkadang seseorang tetap menggunakan ICT, seperti menemukan menu masakan, dekorasi rumah, fashion dan lain-lain. Penggunaannya pun tidak terbatas orang dewasa, namun juga dikalangan anak balita. Tak asing lagi bagi kita saat ini melihat seorang anak dengan usia yang masih sangat dini menggunakan tablet atau hp.

Teknologi bisa memberikan dampak positif/negatif bagi penggunanya. Teknologi dapat mempercepat sampainya informasi, mempermudah komunikasi, berbagi file, tempat akses untuk mengadakan transaksi jual beli, promosi dan lain-lain. Sementara itu teknologi juga membuat orang kurang bersosialisasi, meningkatnya penipuan, lalai terhadap tugas, kecanduan terhadap games dan pornografi serta menipisnya nilai budaya. Dibidang pendidikan teknologi dapat mempermudah akses bagi pengampu pendidikan, inovasi e-learning, berkembangnya kelas virtual dan beragamnya media pembelajaran yang dapat meningkatkan minat belajar siswa. Sementara itu dampak negatif ICT yang sering terjadi pada siswa adalah kecanduan dunia maya, meningkatnya tindak kriminalitas, Cyber Bullying, plagiasi, pencemaran nama baik dan lain-lain. Besarnya dampak negatif yang terjadi pada siswa mengharuskan guru untuk bekerja double di sekolah.  

Guru yang baik, harus berusaha mendidik siswa sesuai dengan zaman yang sedang dilalui dan yang akan dihadapi. Saat ini siswa sedang berada di ambang pintu era globalisasi. Era yang mana tidak ada lagi batasan antara dalam negeri dan luar negeri. Di era ini persaingan tidak hanya terjadi sesama warga negara tetapi juga dengan tenaga luar negeri. Oleh karena itu seorang guru harus mampu mempersiapkan siswanya agar tidak tergilas zaman. Siswa harus dipersiapkan untuk menjadi tuan ditanah sendiri, bukan sebaliknya.

Pada era globalisasi, kepintaran siswa dalam hal teori sudah tidak menjadi jaminan mereka untuk dapat bersaing di dunia kerja. Karena pemahaman teori tanpa keterampilan tidak akan memberikan manfaat pada siswa. Misalnya saja, seorang siswa yang mengetahui bahwa rumus menentukan keliling persegi panjang adalah 2P + 2L, akan berbeda hasil belajarnya dengan siswa yang memahami bahwa untuk mencari keliling suatu benda bangun datar maka semua sisi bagian luarnya harus dijumlahkan. Karena ketika siswa hanya memahami teori saja, maka ketika masalah yang diberikan dirubah, siswa tersebut tidak akan mampu menyelesaikannya. Oleh karena itu tugas dan kewajiban gurulah mendidik siswa sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan.

Kurikulum yang digunakan di Indonesia saat ini adalah kurikulum KTSP dan kurikulum 2013 edisi revisi. Berdasarkan kurikulum tersebut, perencanaan pembelajaran harus mencantumkan pendidikan yang terarah pada penguatan karakter. Penguatan pendidikan karakter merupakan gerakan untuk memperkuat karakter siswa di sekolah. Pembiasaan tersebut dilakukan melalui olah hati (etika), olah rasa (estetika), olah pikir (literasi) dan olahraga (kinestetik). Pentingnya pendidikan karakter diterapkan di sekolah disebabkan beberapa faktor, diantaranya SDM merupakan hal yang paling penting dalam suatu negara, adanya agenda dalam bidang pendidikan untuk mempersiapkan generasi emas 2045 yang memiliki keterampilan abad 21. Alasan lain yang menyebabkan dicanangkannya pendidikan karakter adalah  adanya pergeseran nilai moral pada siswa. Pergeseran tersebut tidak terlepas dari pesatnya perkembangan dunia maya dan tenologi. Tercapainya pendidikan karakter oleh siswa bukanlah hal yang mudah. Siswa harus selalu digiring untuk selalu berlaku sesuai dengan karakter baik tersebut.

            Abad 21 merupakan abad yang penuh dengan kecanggihan teknologi dan informasi. Informasi dapat di akses dimana saja dan kapan saja, pengiriman informasi dapat dilakukan kemana saja dengan sangat cepat. Pesatnya perkembangan itu, menuntut lembaga pendidikan mempersiapkan siswanya untuk dapat menghadapi era tersebut. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menhadapinya adalah dengan membekali siswa keterampilan abad 21 yaitu keterampilan 4Cs (Critical thinking, Creative Thinking, Collaboration, and Communication Skill). Critical thinking (berfikir kritis) merupakan kemampuan seseorang untuk menalar suatu keputusan yang akan diambil. Seseorang yang berfikir kritis tidak akan mudah percaya dengan berita yang diterimanya, dia akan senantiasa mengecek kebenaran dari hal tersebut. Siswa yang memiliki pemikiran kritis tidak hanya terpaku terhadap satu penyelesaian, namun akan mencari alternatif-alternatif lain dari masalah yang dihadapinya.

            Sementara itu Creative Thinking (berfikir kreatif) merupakan keterampilan untuk menghasilkan ide-ide yang mungkin saja tidak terfikirkan oleh orang lain. Kreativitas yang dimiliki oleh seseorang memungkinkan dia untuk selalu berinovasi dan mencari gagasan-gagasan baru. Dalam dunia kerja saat ini yang diperlukan adalah pemikiran manusia untuk menciptakan sesuatu yang dapat menggantikan keterpakaian tenaga manusia. Kreatif membutuhkan sikap pantang menyerah, bertanggung jawab, mengendalikan diri, bersikap ingin tahu dan berfikir secara terbuka. Seseorang yang  kreatif akan memiliki integritas dan etos kerja yang tinggi. Dia akan senantiasa mengembangkan kemampuannya sesuai dengan perkembangan teknologi.

            Kreatifitas siswa dalam pembelajaran dapat dilatih dengan memberikan soal-soal yang berbentuk open ended, yaitu soal-soal yang memiliki banyak jawaban. Dengan banyaknya jawaban yang mungkin untuk satu soal, memungkinkan siswa memiliki jawaban berbeda setiap anak sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Selain mengukur kreatifitas soal yang disusun sebaiknya juga memberikan pengetahuan dan informasi-informasi lain kepada siswa. Contoh:

“Perhatikanlah gambar berikut ini

 

 

          Gambar di atas merupakan gambar perbandingan paru-paru orang yang tidak merokok dengan orang yang merokok. Menurut pendapatmu, berapa batang seseorang dapat menghabiskan rokok setiap hari? Dan jika orang tersebut menghentikan kebiasaan merokoknya, apa saja manfaat yang diperolehnya?”

Dari soal yang disajikan, siswa dapat memberikan 2 jawaban atau lebih, siswa juga memikirkan dampak apa saja yang ditimbulkan oleh kebiasaan merokok. Siswa yang kreatif nantinya akan dapat memaparkan manfaat jika tidak merokok. Dengan demikian siswa akan memiliki sikap ingin tahu dan etos kerja yang tinggi.

Keterampilan lain yang juga dapat menumbuhkan karakter pada siswa adalah kemampuan berkolaborasi. Keterampilan berkolaborasi akan menumbuhkan karakter gotong royong, nasionalis dalam diri siswa. Selain itu sikap religius seseorang akan terpancar dari caranya menjalin hubungan dengan orang lain, jujur, berempati, amanah, dan senantiasa menjalankan ajaran agamanya. Dia senantiasa akan menjalin hubungan yang baik dengan orang yang sama atau berbeda pendapat dengannya. Untuk membiasakan siswa berkolaborasi, guru dapat memberikan tugas yang diselesaikan siswa secara berkelompok.

            Keterampilan yang menjadi ujung tombak dari tiga keterampilan di atas adalah keterampilan berkomunikasi. Keterampilan berfikir kritis, kreatif dan berkolaborasi tidak akan dapat terwujud dengan baik jika seseorang tidak memiliki keterampilan dalam berkomunikasi. Komunikasi tersebut berupa komunikasi lisan, tulisan dan multimedia. Keterampilan berkomunikasi pada siswa akan mengembangkan karakter religius, menghargai pendapat orang lain, menyampaikan pendapat dengan santun dan menggunakan kalimat-kalimat yang efektif. Dengan memiliki ke empat keterampilan tersebut dengan sendirinya siswa sudah memiliki karakter yang baik.

Kegiatan pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berkolaborasi dan berkomunikasi siswa adalah dengan memberikan pertanyaan dan meminta siswa mengemukakan pendapatnya.

Contoh:

Pada hari libur, saya bersama keluarga pergi ke kebun binatang. Dipintu masuk tertera harga tiket orang dewasa Rp. 25.000,- dan anak-anak Rp. 20.000,-. Jika uang yang digunakan untuk membayar tiket Rp.220.000, berapa orang kami yang boleh masuk ke kebun binatang?(Marleni, 2016)

Dari persoalan yang diberikan, siswa diminta untuk menjawab pertanyaan tersebut secara mandiri dengan batas waktu yang ditentukan, kemudian mengemukakan jawaban mereka dalam kelompoknya. Anggota kelompok ditugaskan untuk mencatat jawaban yang dikemukakan oleh temannya. Proses pembelajaran seperti akan melatih kemampuan berkolaborasi dan berkomunikasi siswa.

            Berdasarkan paparan di atas dapat kita simpulkan bahwa seorang guru harus memperhatikan dan menyesuaikan pola pengajaran dengan era yang akan dihadapi siswa nantinya. Siswa hendaknya dibekali dengan karakter yang baik supaya mereka dapat diterima dan terpakai di lingkungannya. Salah satu hal yang dapat dibekalkan oleh guru adalah keterampilan. Keterampilan berfikir kritis, kreatif, berkolaborasi dan berkomunikasi merupakan keterampilan yang dapat memperkuat karakter siswa.  Bagaimana guru melatihkan keterampilan tersebut dalam pembelajaran agar berhasil dengan baik, merupakan seni guru masing-masing.

Komentar